Siapa Yang Paling Banyak Nge-tweet?

Awalnya cuma iseng, bikin script buat ngitung siapa yang paling banyak nge-tweet di timeline gue. Gak ada tujuan apa-apa, cuma mau tau aja. Karena gue suka melihat angka-angka (terutama di buku tabungan XD). Terus, gue memutuskan untuk membuat web untuk menjalankan script itu, supaya gak tergantung sama ketersediaan shell python. Dan akhirnya, gue pikir, kenapa gak sekalian aja buat service biar orang bisa pakai. Jadilah cerewt ini.

Awalnya namanya "cerewet", trus diilangin satu vokal biar gaya :P Seperti yang gue bilang di atas, ini service buat ngecek siapa yang paling banya nge-tweet di timeline kita. Saat ini, cuma terbatas sampai 500-an tweet terakhir aja, dan gue kasih batas cuma 1 jam sekali buat ngeceknya, biar gak terlalu berat :D

Berhubung gue gak terlalu jago berkata-kata, jadi, silahkan coba langsung. Kalau ada error atau semacamnya, lapor aja, lewat email atau mention.

Remote Working di Jakarta

Kenapa ya perusahaan-perusahaan IT (terutama yang bergerak di bidang
web development) di Jakarta masih jarang yang menyediakan pilihan
remote working? Padahal, menurut saya, dengan kondisi lalu lintas
Jakarta yang sudah sangat parah, bekerja secara remote adalah
pilihan terbaik.

Orang-orang yang tinggal di pinggiran Jakarta (bodetabek) menghabiskan
1,5 - 2,5 jam setiap hari di jalan untuk berangkat dan pulang bekerja.
Jadi total menghabiskan 3 - 5 jam sehari, hanya untuk pergi dan
pulang. Parahnya lagi, lamanya perjalanan bukan karena jarak yang jauh
(tol Jakarta - Bogor saja cuma 40km, gak sampai 1 jam perjalanan),
melainkan karena kemacetan yang luar biasa. Bisa dibayangkan lelahnya
orang-orang tersebut setelah menempuh perjalanannya. Sampai di kantor,
energi untuk bekerja mungkin sudah terpakai 50%. Produktivitas bisa
dipastikan menurun.

Orang-orang yang bekerja di bidang web development, terutama
programmer dan designer, nggak perlu berada di kantor setiap
waktu. Mungkin cukup 1 - 2 kali seminggu untuk kpordinasi. Sekarang
jaman intenet. Semua bisa lewat internet. Komunikasi bisa lewat email,
yahoo messenger, google talk, skype, you name it. Kolaborasi
dokumen? google docs bahkan sekarang mendukung real time edit. Untuk
kode, versioning system baik yang terpusat maupun terdistribusi,
bisa digunakan. Bisa dibayangkan produktivitas yang bisa tercapai
kalau 3 - 5 jam per hari itu bisa dihilangkan.

Tentunya, untuk dapat bekerja secara remote, kita butuh koneksi
internet yang stabil. Ini sebenarnya sudah tidak terlalu masalah.
Koneksi cepat ala telkom speedy atau fastnet dari firstmedia sudah
mencakup banyak lokasi. Kalaupun itu belum ada, koneksi melalui
jaringan selular banyak tersedia. Untuk amannya, sebaiknya kita punya
lebih dari satu koneksi, untuk berjaga-jaga kalau koneksi kita mati.

Jadi, sebenarnya sih remote working itu sangat mungkin. Sejauh yang
saya tau, perusahaan-perusahaan di luar sana banyak yang memilih model
ini demi produktivitas. Sayangnya, kebanyakan perusahaan di sini belum
siap atau belum mau. Entah kenapa.

Libur

Weekend kali ini gue benar-benar memanfaatkan libur dengan (hampir) tidak menyentuh komputer. Dari Jumat sore hingga saat ini (Senin sore), jumlah jam gue menggunakan komputer mungkin masih bisa dihitung menggunakan satu tangan saja.

 Jumat malam gue cuma nyalain komputer sebentar, cek email sebentar, trus kembali ke depan tv dan kemudian tidur.

 Sabtu pagi juga gak nyentuh komputer. Siang sekeluarga pergi jemput Bokap ke bandara, trus makan di Daeng Tata. Pulang Magrib, cek email sebentar trus start torrent buat The IT Crowd s03e03, trus kembali ke ruang keluarga, ngobrol sama bokap nyokap.

 Minggu pagi nonton NBA di tv, trus siang pergi nonton. Tadinya mau nonton Bolt, tapi telat dan gue males nunggu buat jadwal selanjutnya, akhirnya nonton I Know Who Killed Me-nya Lindsay Lohan. Pulang trus nonton Tropic Thunder di komputer. Selesai nonton langsung tidur.

 Pagi ini setelah sholat ied, baca google reader sebentar, kemudian sodara dari Bogor dateng. Ngobol-ngobrol, trus iseng foto kura-kura. Nyalain laptop buat upload dan bikin post di blog sebentar. Dan sekarang gue nulis ini menggunakan hp sambil tiduran.

 Enak juga bisa jauh dari komputer dan pekerjaan untuk sementara. Yah walau harusnya pekerjaan gue gak mengenal waktu, tapi gak ada salahnya kan istirahat. Besok udah mulai mengerjakan to-do harian lagi. 3 hari istirahat cukup banget untuk menyambut besok dengan semangat.

Demam Blackberry

Kalau untuk urusan mobile gadget, kayaknya orang indonesia boleh bangga. Kita gak ketinggalan sama orang-orang di barat sana. Kalau yang mengikuti perkembangan berita gagdet pasti tau kalau nokia sudah dua kali merilis seri communicatornya (seri hp paling canggih punya nokia) di negara indonesia tercinta ini. Kabarnya penjualan communicator terbesar itu di indonesia. Dan para wakil rakyat merasa kurang profesional kalau belum menenteng seri communicator itu. Padahal kalau yang gue liat di tv, jarang banget dari politikus busuk itu yang benar-benar memanfaatkannya.

 Sekarang jaman communicator sudah lewat. Blackberry mulai masuk dan perlahan menguasai pasar. Gue rasa nggak lama lagi sampai kita mendengar berita kalau wakil rakyat kita berbondong-bondong mengunakan blackberry. Setidaknya, deman blackberrt ini sudah menjangkit kaum muda. Nggak punya blackberry nggak gaul, itu yang pernah gue denger di radio.

 Seriously, apa sih kelebihan blackberry hingga segitu menjamurnya? Satu-satunya servis yang gue anggap berguna dari blacknerry itu cuma layanan push emailnya. Gue belum pernah melihat secara lansung fitur email itu, tapi dari yang gue baca, tampaknya fitur push email dari blackberry membuat kegiatan kirim terima email secara mobile menjadi sangat gampang dan nyaman.

 Seberapa banyak sih orang indonesia yang segitu aktifnya menggunakan email? Dari radio gue denger pengguna blackberry di indonesia (khususnya kaum muda) menggunakannya hanya untuk messenger dan, euh, facebook. Terlalu mahal gak sih untuk hal begitu doang?

 Handset blackberry itu mahalnya buset. Coba bandingkan lah sendiri. Bandingkan harga dengan fiturnya. Gue rasa, kecuali kirim-terima email sudah menjadi bagian penting dan utama dari hidup, blackberry belum dibutuhkan.

Kurang Banyak Latihan

Duh, kayaknya gue kurang banyak melatih otak. Masa' mau buat algoritma buat generate bilangan prima aja mikirnya lama banget. Kebanyakan berkutat di lingkungan sistem informasi yang isinya cuma muter-muter di db view. Jadinya cara yang digunakan cuma itu-itu aja.

Bukannya hal itu jelek sih. Tapi itu bukan passion gue. Bukan alasan awal gue belajar programming. Bukannya kita seharusnya ngejar passion? Gue mau banget. Tinggal nunggu kesempatan aja.

English vs Bahasa Indonesia

Sebagai orang Indonesia, tentunya bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling dikuasai. Menulis apapun akan lebih lancar dan jelas.

Begitu juga dengan menulis blog. Tulisan-tulisan di blog akan lebih lancar jika ditulis dengan bahasa Indonesia. Yang jadi masalah (untuk saya) adalah aturan penggunaan bahasa Indonesia.

Di tempat saya tinggal (jakarta), penggunaan bahasa Indonesia bisa dibagi menjadi dua. Penggunaan bahasa resmi dan penggunaan bahasa gaul.

Bahasa yang resmi (yang sesuai dengan EYD - Ejaan Yang Disempurnakan) digunakan di tulisan-tulisan resmi seperti karya tulis, produk jurnalisme, dan sebagainya.

Sementara bahasa tidak resmi digunakan di percakapan sehari-hari. Salah satu kelebihan blog adalah adanya sentuhan personal. Berarti tulisan yang digunakan akan lebih enak jika menggunakan bahasa sehari-hari. Tapi blog juga merupakan produk jurnalistik. Sudah seharusnya blog menggunakan bahasa yang baku.

Saya sendiri mengalami kesulitan menentukan model tulisan dalam bahasa Indonesia. Kalau menggunakan bahasa baku terlihat aneh, tapi saya merasa tidak sreg menggunakan bahasa gaul. Menggunakan bahasa Inggris terasa lebih mudah.

Tapi, saya akan mencoba menulis menggunakan kedua bahasa.

The US Election

The result is here. Barack Obama creates a history for being the first African-American president. Finally, we could see racist is actually, and slowly, dissapear. congratulation for Obama and his great time. Hope you could do the change that you always said.

What's this for Indonesia? What's this for me? I'm actually in the side who don't believe there are changes happening. Off course I know Obama could and make the changes. But I believe, Obama isn't the only decission maker. US's policy about foreign affair won't change a lot. They'll still mess with other countries affair. Maybe the change is on how the will do it. Maybe we won't see any war, but they will still invide us no matter what.

Well, we'll just keep hoping then.